PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karya sastra merupakan hasil karya cipta manusia yang merupakan hasil
imajinasi dan refleksi seorang penulis dari suatu hal yang ia rasakan, ia lihat,
ia dengar, dan yang terjadi di dalam masyarakat. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa terciptanya sebuah karya sastra tidak dapat lepas dari
bagaimana situasi dan kondisi masyarakat pada saat sebuah karya sastra
diciptakan. Proses penciptaan karya sastra selain dipengaruhi oleh situasi dan
kondisi masyarakat juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dalam diri
penulis. Kondisi tersebut dapat berupacara pandang seorang penulis terhadap
dunia dan masyarakat secara utuh baik dari segi negatif maupun positif.
Sebuah karya
sastra dapat dinilai dari berbagai aspek baik dari dalam karya sastra itu
sendiri atau intrinsik maupun unsur dari luar karya atau ekstrinsik yang juga
memengaruhi sebuah karya maupun aspek genetik sastra yaitu asal-usul karya
sastra, dalam hal ini asal-usul karya sastra yaitu pengarang dan kenyataan
sejarah yang melatarbelakangi lahirnya sebuah karya sastra (Iswanto, 2001). Hal
tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakanoleh Goldman (dalamFaruk,
2003:31), yaitu terdapat suatu korelasi atau hubungan yang kuat antara bentuk
literer novel dengan hubungan keseharian anta rmanusia dengan komoditi pada
umumnya atau secara lebih luas, antara manusia dengan sesamanya dalam
masyarakat.
Perkembangan
sastra berjalan seiring berkembangnya suatu bangsa dan negara dalam rentang
sejarah, seperti Indonesia. Sebagai produk budaya, sastra di Indonesia
mencerminkan identitas dan kultural masyarakatnya, termasuk berbagai masalah
universal yang menyangkut kehidupan manusia secara umum (Shoim Anwar, 2012).
Oleh karena itu, karya sastra yang ada sekarang semakin banyak dengan
bermunculnya sastrawan muda yang melejit namanya berkat karya-karya yang
direfleksikannya dari imajinasinya ke dalam suatu karya sastra , seperti novel,
cerpen dll.
Novel-novel
yang ada mempunyai ciri khas atau daya tarik yang berbeda-beda sesuai Kanato
Puji seorang mahasiswi yang menyelesaikan studinya di Pendidikan Bahasa Inggris UPI Bandung dan melanjutkannya lagi
ditempat yang sama. Di dalam analisis ini, saya tertarik dengan judul novel “Without You” setelah karangan Shakufuku Sa Reta Jinsei merupakan
terbitan novel perdananya.Novel ini sangat kental dengan unsur sosial yang
membumbui isi karya sastra novel ini. Seperti, latar sosial pendidikan,
keluarga sampai menyinggung tentang negara bagian juga. Dalam bab selanjutnya
akan dipaparkan analisis sosiologi sastra.
B. Landasan Teori
Ratna (2008:165) mengemukakan
secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception
(Inggris) yang berarti sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam
arti luas resepsi didefinisikan sebagai pengolahan teks, cara-cara pemberian
makna terhadap karya sehingga dapat memberikan respons terhadapnya. Hal ini
sejalan dengan pendapat Pradopo (2007:206) bahwa resepsi sastra adalah estetika
(ilmu keindahan) yang mengacu kepada tanggapan atau resepsi pembaca karya
sastra dari waktu ke wak`tu.
Selanjutnya, Endaswara
(2008:118) mengemukakan bahwa resepsi berarti menerima atau penikmatan karya
sastra oleh pembaca. Resepsi merupakan aliran yang meneliti teks sastra dengan
bertitik tolak kepada pembaca yang memberi reaksi atau tanggapan terhadap teks
itu. Dalam meresepsi sebuah karya sastra bukan hanya makna tunggal, tetapi
memiliki makna lain yang akan memperkaya karya sastra itu.Berdasarkan pendapat
di atas dapat disimpulkan bahwa resepsi sastra merupakan penelitian yang
menfokuskan perhatian kepada pembaca, yaitu bagaimana pembaca memberikan makna
terhadap karya sastra, sehingga memberikan reaksi terhadap teks tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
SINOPSIS : Di
dalam novel Without You ini
menceritakan kehidupan ketiga sahabat yang sangat setia dalam suka maupun duka
dalam menjaga persahabatan mereka sejak masih kecil sampai dewasa. Ketiga
sahabat tersebut bernama Zara Iqlima (panggilan Zara), Dewa Rama (panggilan
Dewa), dan Agha Rizal Pratama (panggilan Agha). Keluarga mereka tinggal di
kompleks perumahan yang sama, sehingga diantara keluarga tersebut telah saling
mengenal baik. Ketiga orangtua mereka menempatkan tempat pendidikan yang sama
pula mulai dari SD sampai SMA dengan alasan dapat secara intensif mengawasi
perkembangan anak-anak mereka.
Permasalahan
ketiga sahabat ini ketika SMA tepatnya kelas III mempunyai persamaan yakni adanya suatu pertentangan diri dengan
pihak keluarga, yang dipicu oleh keinginan atau cita-cita yang telah menjadi
harapan di masa depan mereka bertiga menjadi terhalang karena ambisi ketiga
Ayahnya dalam menentukan masa depan mereka. Kekecewaan dan rasa hancur yang
mereka rasakan bersama karena sikap otoriter ayahnya. Kisah tersebut bermula
ketika seorang guru kelas bernama Bu Resti memberikan lembaran yang berisi
pertemuan perwalian mengenai penjurusan yang akan dipilih oleh para siswa dalam
melanjutkan ke Universitas. Zara menginginkan untuk masuk Seni karena dia ingin
menjadi desainer karena keahliannya dalam menggambar dan juga menjadi musisi
karena memiliki suara didampingi keahliannya berpiano, namun papinya atau Pak
Zaki menginginkan Zara untuk masuk ke sosial untuk meneruskan bisnisnya.
Sedangkan Agha menginginkan masuk Sains karena ia ahli dalam merumuskan sebuah
konsep beserta pemanfaatannya sehingga ia di juluki Profesor Sains di
sekolahnya, namun keinginan gugur ketika ayahnya atau Pak Wan menginginkan Agha
untuk menjadi seorang lawyer seperti
dirinya, sementara ia tak mendukung keinginan anaknya. Berbeda dengan Zara dan
Agha, Dewa memiliki kisah tersendiri yakni dalam memilih jurusan ia diberi
kebebasan dalam menentukan masa depannya oleh Pak Pranata papanya, namun saat
Dewa memilih Sains karena ingin menjadi seorang dokter seperti papanya, dia
merasa tak dipercayai oleh papanya karena pilihannya sendiri, hal itu membuat
Dewa merasa berkecil hati karena kemampuannya diragukan.
Segala cara
yang dilakukan oleh Zara, Dewa dan Agha dalam usahanya untuk meyakinkan orang tua
mereka, namun hasilnya tetap nihil. Ketiga ayahnya tetap bersikukuh pada
pendiriannya. Tak sampai disitu, Zara telah di daftarkan oleh papinya untuk
kuliah bisnis di Universiteit Gent Belgia. Hal itu membuat Zara pernah berusaha
untuk kabur dari rumah seperti yang dilakukan oleh kakaknya Zian yang telah
memilih untuk angkat kaki dari rumah setelah papinya mendesaknya untuk menuruti
kemauan papinya. Namun, usaha yang dilakukan Zara berhenti setelah mendapatkan
nasehat dari seseorang pelajar SMK bernama Radi yang baru dikenalnya ketika ada
tawuran yang dilakukan oleh pelajar SMK tersebut. Sehingga, ia memutuskan untuk
pulang kerumah menuruti kemauan papinya. Semangat meneruskan usaha bisnisnya
terus terpacu meskipun ia harus ditinggalkan selamanya oleh papinya, peristiwa pilu
itu terjadi ketika ia mengikuti perlombaan di Kafe Kemang. Walaupun itu membuat
ia kewalahan dalam mengemban tugas sebagai pengganti tulang punggung keluarga,
namun ia sangat beruntung memiliki kedua sahabat yang selalu ada buatnya membuat
hidupnya tidak sendiri.
Kecemasan dan
kesedihan akan dialami Zara ketika akan meninggalkan kedua sahabatnya ke
Belgia, begitupun rasa kekecewaan yang akan dialami oleh Dewa dan Agha kepada
Zara karena telah berkhianat pada mereka untuk terus bersama-sama selamanya,
sesuai apa yang dijanjikan Zara dahulu. Namun, kenyataan memang harus
memisahkan kebersamaan mereka bertiga. Semenjak perpisahannya dengan kedua sahabatnya, Zara mulai
mengarungi rutinitasnya di Belgia untuk belajar, mengurus perusahaan, dll.
Bahkan untuk berhubungan pada kedua sahabatnya sudah tak sering lagi dilakukan
karena dihadang oleh kesibukkan. Zara sudah mendapatkan semua impiannya, mulai
dari impiannya selama ini yang diidamkannya yakni musik dan desainer. Suatu
hari ketika ia sedang jalan-jalan dengan Raka ia bertemu dengan kakaknya Zian,
hal itu merupakan suatu yang diluar dugaan. Mereka saling melepas rindu dan
saling tukar cerita, Zian menceritakan apa yang telah ia lakukan setelah tiga tahun lamanya berjuang sendiri
dan berusaha membuat papinya bangga akan dirinya, namun ekspresi Zian yang
antusias mulai berubah diganti dengan rasa sedih dan sesal kala ia berbalik
mendengar cerita Zara bahwa papinya sudah meninggal. Akhirnya mereka
bersama-sama membangun bisnis papinya menuju tangga kesuksesan.
Berkelut dengan rutinitas yang padat
menjadikan empat tahun Zara untuk lulus dari Belgia sudah didepan mata. Zara
menjadi wisudawan terbaik dengan predikat mahasiswa cumlaude setelah ia berhasil membuat ketiga penguji berdecak kagum
karena presentasi analisisnya yang ia sajikan secara sempurna dihadapan mereka.
Setelah lulus dari Belgia, ia segera pulang ke Indonesia. Seperti biasa yang
dilakukan Zara, ia akan memberikan sebuah kejutan pada kedua sahabatnya
mengenai kedatangannya. Namun, ditengah-tengah pelepasan rindu orang terdekat
padanya. Ia mendapatkan suatu kedukaan kembali, ia harus kehilangan mami, Zafi
dan Ziko karena kecelakaan saat mau pergi liburan. Zara merasakan kesedihan
yang mendalam, dan hal itu membuat Agha, Dewa, beserta keluarganya menjadi
empati terhadapnya. Agha dan Dewa menjadi pendamping setia Zara dalam
membangkitkan semangat hidupnya lagi.
Perasaan cinta dan kasih sayang yang
dipendam Agha dan Dewa kepada Zara tidak hilang dimakan jarak dan waktu justru
semakin membesar, sampai-sampai ia saling bergantian menyatakan masing-masing
perasaannya, bahkan ketika saat kedatangan Zara ke Indonesia sampai ia terakhir
menyatakan cinta mereka sambil berlutut dihadapan Zara yang terduduk lemah di
kursi roda karena sakit pasca operasi kanker usus. Zara tidak bisa menerima
cinta mereka walau ia tahu Dewa adalah pujaan hatinya semasa kecil, namun ia
semakin lama semakin mengagumi sosok Agha yang selalu peduli padanya. Zara
ingin bersama pada mereka berdua seutuhnya.
Sebenarnya Zara telah lama memendam
penyakit yang dideritanya selama berada di Belgia Zara terlalu sibuk dengan
tanggungjawabnya sampai lupa mengurus dirinya sendiri, ia menjadi jarang makan,
badannya. Ketika didiagnosa ia terkena kanker usus penyakitnya itu sudah
mencapai stadium tiga, dan operasi yang dilakukan terakhir di Indonesia
didampingi kedua sahabatnya tersebut merupakan diagnosa penyakit Zara yang
sudah berada di stadium akhir. Namun, Zara meminta dokter yang menanganinya
untuk tidak memberitahukan kepada siapapun terlebih pada kedua sahabatnya.
Menjelang Dewa wisuda, ia sedih
karena Zara tak dapat melihat keberhasilannya. Akhirnya, seusai acara ia dan
Agha pergi menemui Zara. Dewa masih membawa Toganya untuk ditunjukkan pada
Zara, dan Agha membawa mawar merah tanda kerinduan yang mendalam pada Zara.
Mereka curahkan semua diatas pusara Zara yang telah berumur satu minggu itu.
1. Analisis pada Novel Without
You
Kondisi Sosial di Lingkungan Sekolah
Adanya suatu
paham strata dalam masyarakat akan menghambat integrasi sosial yang hanya akan
menimbulkan diskriminasi dalam hal memperlakukan tindakan. Hal tersebut berlaku
pada seorang guru walaupun mempunyai jabatan yang lebih tinggi atau jabatan
yang lebih lama untuk bertindak semaunya dan menjadi tumpu sesuatu yang benar,
sehingga membuat orang sulit memberikan reaksi atau penegasan apabila telah
terjadi sikap berlebihan terhadap anak didiknya. Pak Anton yang telah lama mengabdi menjadi
guru di SMA Zara, dalam memberikan hukuman terhadap siswa yang terlambat
dianggap cukup berlebihan.
“Beberapa
guru telah memperingatkan Pak Anton untuk tidak melakukan hal itu. Namun,
mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa mengingat Pak Anton telah mengabdi di
sekolah ini puluhan tahun lamanya, sehingga sering dianggap senior. Bahkan, kepala
sekolah pun sungkan menegurnya”. (hal 13)
Kurangnya
kedisplinan dalam mengatur waktu dan pola yang baik akan menyulitkan seseorang
untuk mengawali kebiasaan yang baik, sehingga seringkali pemberian hukuman
menjadi jalan akhir yang akan memberikan efek jera pada pelaku yang melanggar
padahal hal itu akan berdampak kurang baik. Seperti hal yang dilakukan Pak Anton melatih kedisiplinan kepada
peserta didik tidak perlu dengan menggunakan hukuman yang terlalu dianggap
berat oleh peserta didiknya hingga berakibat cedera seperti yang dialami Zara
saat menyelesaikan hukuman dari Pak Anton.
“Ini demi kesehatan
kalian. Kalau kalian sehat, sendiri yang bisa merasakan. Ini juga untuk
kedisiplinan,’’ kata Pak Anton sambil berlalu dari ruang UKS. (hal 18)
Setelah pembagian kelas, mereka
meminta izin pada guru untuk pergi ke ruang P3K untuk mengobati luka di lutut
Zara.
Suatu kekurangan pastinya ada suatu
kelebihan. Kelebihan itu yang perlu diperjuangkan daripada memikirkan suatu
kekurangan. Seperti Zara dan Dewa yang kurang dalam menangkap suatu pelajaran
karena Zara memiliki kekurangan yakni daya ingat yang pendek (short memory), namun ia mempunyai suatu
kelebihan di bidang seni. Sedangkan Dewa mempunyai kelebihan yakni rasa
semangatnya yang tinggi dalam melakukan sesuatu yang didinginkannya dan ia
memiliki tubuh yang kuat karena ia sering bermain futsal dan basket. Jadi,
manusia harus pandai bersyukur atas pemberian dari Tuhan dan memanfaatkannya
sebagaimana mestinya.
Meskipun short memory-nya menjadi
salah satu kekurangan, Zara memiliki skill tinggi pada seni, mulai dari seni
music dan seni rupa.(hal 24)
Dewa sebagai orang yang tak pernah
patah semangat dalam melakukan sesuatu yang diinginkannya. (hal 25)
Kondisi Sosial di Lingkungan Keluarga
Membekali kemampuan diri itu
penting, terlebih pada usia remaja yang mempunyai kesempatan banyak dalam
melakukan sesuatu hal apapun dengan sendirinya tanpa melibatkan orang lain. Hal
itu akan melatih seseorang untuk hidup mandiri atau tidak menggantungkan kemampuan
orang lain, sementara kemampuan sendiri diabaikan.
“makanya, lo berdua belajar, dong.
Ntar kalo kita udah gak bareng-bareng lagi, lo berdua nggak bisa apa-apa”(hal
26)
Sebagai orang tua hendaknya jangan
membandingkan kepribadian anak-anaknya, karena hal itu akan berpengaruh pada
perkembangan anak satu dengan yang lainnya. Munculnya tenggang rasa antar
saudara dikarenakan rasa pilih kasih orang tua pada anaknya.
“apa yang bisa diharapkan dari
dia,Wi?kamu lihat sendiri kerjaannya setiap hari ngapain,kan? Nonton film sama
main terus ...” (hal 35)
Pengertian dan dukungan dari
keluarga terhadap anak sangat perlu karena akan membuat si anak lebih
termotivasi tidak ragu akan pilihannya, novel ini mengajarkan setiap keluarga
untuk lebih memperhatikan anak-anaknya.
“Gue tuh kayak nggak didukung sama
keluarga sendiri. Maksudnya, apa yang gue lakuin tuh dimata merekan nggak
pernah berarti. Malah kayaknya mereka nggak pernah percaya gue bisa ngelakuin
sesuatu. Gue setuju masuk sekolah ini karena emang gue pengen dapet bimbingan
khusus soal masa depan kayak visi misi sekolah ini. Jujur, iya gue sebenarnya
pengen jadi dokter. Tapi, gue nggak berani bilang karena emang gak ada yang
percayakalau gue bisa”
Novel ini terjadi pertentangan
seorang anak pada orang tua yang tidak pernah saling mengerti satu sama lain,
sekesal apapun dan sesibuk apapun anak pada orang tua namun sebagai seorang
anak tetap harus menghormati orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka.
“Zara ngebelain bolos kerja kelompok sama
techmeet lomba Cuma jemput Papi. Eh Papi malah bikin dia badmood”(hal 112)
Kalau bukan karena takut durhaka,
gue gak mau buka pintu, (hal 76)
Kondisi Sosial di Lingkungan Lokasi Masyarakat
Di dalam novel ini, menyinggung
permasalahan yang ada di lingkungan di ibukota. Istilah perkotaan tidak akan
terlepas dari kemacetan dijalan raya, hal itu masih menjadi masalah yang belum
bisa teratasi oleh pemerintah, dikarenakan semakin banyak yang masyarakat lebih
memilih berpergian transportasi pribadi daripada transportasi publik.
“Jalanan ibukota memang selalu padat
setiap sore. Jam pulang kantor dan pulang sekolah menjadi alasan utama kemacetan
di jalanan”. (hal 49)
Kondisi sosial masyarakat yang
berbeda serta cara memperlakukan sesuatu sekecil apapun juga berbeda. Seperti
perbedaan yang dibandingkan penulis di Indonesia dan di Belgia
“Sebenarnya bangunan di Belgia tak
lebih megah dari bangunan di Indonesia. Hanya saja perlakuan warga Negara yang
berbeda. Di Belgia, warganya tidak terlalui menyukai seni, sehingga mereka akan
puas melihat bangunan itu apa adanya. Bebeda dengan Indonesia, warganya terlalu
kreatif dan tak cepat puas, sehingga dinding yang putihpun akan penuh dengan
coretan-coretan yang mereka kategorikan sebagai seni graffiti”. (hal 232)
Mobil-mobil
pun berderet seperti semut yang jarang menyalip. (hal 232)
Dalam membandingkan perbedaan antar
dua Negara perlu didasari adanya suatu kebudayaan yang berbeda pula, masyarakat
Indonesia yang mayoritas beragama Islam tidak mungkin melakukan sesuatu yang
dilarang oleh agamanya seperti makan-makanan dari yang dimakruhkan atau
diharamkan, berbeda dengan masyarakat Belgia.
Tidak hanya manusia, tetapi juga
makhluk lain yang ada di kedua Negara tersebut. Di Indonesia, banyak sekali
bangunan yang dicintai oleh lumut, laba-laba, tikus bahkan kucing. (233)
Di Belgia beda lagi, tak ada lumut,
laba-laba, tikus atau kucing yang berani menempel di barisan gedung itu karena
beberapa koki professional di sana lebih memilih mereka untuk dijadikan menu
yang hebat.(233)
Masyarakat Belgia kurang menyukai
seni, oleh karena itu seorang pengamen dianggap seperti pengangguran dan
pengemis.
“ngamen disini lebih parah dari Indonesia.
Kamu nggak akan dapet uang,”
“buat kepuasan, bukan buat uang”
“sama saja. Pengamen disini dianggap
sebelah mata. Di sini, modal kamu harus lebih besar, nggak kayak kecrek yang
dipakai bocah-bocah Indonesia”
Kemudian Yosita menjelaskan betapa rendahnya pengamen di
Belgia. Mereka akan disejajarkan dengan pengangguran dan pengemis. Kehidupannya
berada di bawah bats kemiskinan. Banyak orang Indonesia yang dating ke Belgia
untuk menunujkkan kemampuannya dalam bidang seni musik. Padahal, mereka tidak
akan mendapatkan perhatian sama sekali. Nyanyi, pantomime, dan menari adalah
tiga diantaranya yang tak pernah mendapat perhatian pengguna jalan.(hal 240)
Motivasi juga dibutuhkan dalam diri
seseorang, seperti novel ini yang memberikan motivasi kepada pembacanya dalam
memilih suatu keputusan.
“Umur orang siapa tahu. Kalau kitak nggak bisa
memutuskan apa yang kita pilih, hidup kita bakal habis Cuma karena bingung
memutuskan sesuatu. Pertimbangkan, bicarakan dan putuskan. Sekarang atau nggak
sama sekali,”(hal 54)
Di dalam novel ini juga memberikan
masukan bahwa kalau melakukan sesuatu hendaknya yang membuat diri senang bukan
membuat diri yang gelisah.
“berjanji pada diri sendiri buat
nggak ngelakuin sesuatu yang bikin kita seneng adalah kesalahan yang besar dan
menyakitkan. Apapun yang gue suka silakan lakuin dengan syarat tahu resikonya.
Kalau mampu ngatasin resiko itu, ya lakuin. Kalau nggak ya jangan,”
Memberikan pelayanan terhadap
client/pelanggan harus dengan baik, terlebih menangani pelanggan yang sedang
komplain terhadap kinerja suatu proyek yang belum ada tanggapan. Zara berusaha
memberikan klarifikasi dengan baik dan benar kepada Pak Tirto dan memberikan
suatu solusi sehingga membuat masalah pelanggan papinya tersebut tuntas.
“Pak Tirto mohon maaf sebelumnya
jika perusahaan kami tidak secara cepat merespon pengaduan Bapak. Kebetulan Pak
Direktur baru saja dioperasi, sehingga belum bisa bertemu langsung dengan
Bapak. Jika Bapak berkenan, saya yang akan menanganinya. Boleh?” (hal 132)
Zara mengendarai motornya dengan sembarangan,
hal itu merupakan contoh bagian novel yang tidak baik dan tidak untuk ditiru
oleh pembaca. Karena, selain membahayakan diri sendiri akan membahayakan orang
lain.
Ia belokkan Jupiter ke kanan dan ke
kiri. Bahkan ia hampir membahayakan dirinya sendiri dengan menancap gas
motornya saat lampu hijau tinggal satu detik lagi. Jika saja tidak gesit,
mungkin ia akan tertabrak truk semen
dari arah kanan. (hal 150)
Tawuran adalah perbuatan menyimpang
yang dilakukan oleh pelajar walaupun dengan beribu alasan untuk melakukan hal
itu tetap saja tidak pantas untuk dilakukan. Selain itu tawuran yang dilakukan
di jalan akan menggangu arus lalu lintas kendaraan.
ia menjelaskan bahwa itu merupakan satu bentuk solidaritas terhadap
teman yang dikeroyok oleh sekolah lain. (hal 159),
Tawuran antar pelajar berpakaian
putih abu-abu itu berlangsung ricuh. Jumlahnya yang banyak membuat badan jalan sebelah kiri tak bisa
dilalui oleh kendaraan bermotor. (154)
Nasihat yang baik dari seorang teman
seperti Radi membuat Zara sadar untuk melakukan sesuatu untuk Papinya.
Setelah mendapat petuah dari Radi, ia
pun menyanggupi keinginan papinya dengan beberapa persyaratan tertulis. (178)
Kesedihan terpancar pada Zara ketika
lagu kedua dalam kontes bernyanyinya ia mendapat kabar bahwa papinya meninggal
dunia ketika perjalanan untuk melihat penampilan Zara di perlombaan tersebut,
namun ia masih menunjukkan rasa bakti terhadap papinya untuk menyelesaikan
perlombaannya sesuai amanat terakhir papinya. Hal itulah wujud bakti anak
kepada orang tua.
Apa bisa buktiin ke Zaki Pambudi
Luhur kalau Zara Iqlima menang? Ia ingat kat-kata papi malam sebelumnya dan ia
sudah mengatakan bisa. Ia harus maembuktikannya.
Mau tak mau, ia menuruti semua keinginan papi. Meskipun
sekarang papinya sudah meninggal, itu tak membuat dirinya senang karena ia bisa
dengan leluasa untuk memilih cita-cita apa yang ia inginkan. Justru ia menjadi
semakin bertanggungjawab atas kehidupan keluarganya.
Adaptasi yang baik terhadap
lingkungan.
Namun akhirnya Yosita mengajak Zara
untuk mengiringi paduan suara atau music untuk tarian-tarian Indonesia
menggunakan organ atau piano jika ada acara di KBRI. Menteri luar negeri
Indonesia di Belgia pun sudah hafal padanya. (hal 240)
Dan orang-orang baru namun tak mampu
mengadaptasi dengan waktu membuat orang sering disiplin terhadap waktu.
Jarang sekali ia bisa hadir tepat
waktu di perkuliahan pagi. Sehingga, ia lebih dikenal dengan Zara Late daripada
Zara Iqlima. (hal 241)
Perkataan orang tua pastilah ada benarnya,
seperti Zian yang harus jatuh bangun untuk mendapatkan suatu pengakuan dari
orang terhadap keahliannya. Namun, karena kerja kerasnya ia mampu menggapai
impiannya.
Nyatanya apa yang dikatakan papinya
benar. Ia harus pontang-panting membuat dirinya diakui oleh orang banyak. Zian
pun bangkit dan mencoba menggapai cita-citanya lagi, meskipun tertatih. Lambat
laun, ia bisa membuat semua kembali normal dan menjadi seorang fotografer yang
dikagumi. (hal 248)
Kesuksesan
tak membuat seorang anak melupakan keluarganya.
“Kadang-kadang, ia menyuruh kawannya
untuk melihat keadaan keluarganya sampai suatu hari ia tahu perusahaan papinya
hamper gulung tikar. Zian mencari cara untuk bisa membantu papinya. Ia masukkan
proposal ke sana- kemari agar mereka mau menggunakan jasa perusahaan papinya.
Sejumlah perusahaan yang ia masuki, hanya satu yang bersedia melakukan kerja
sama itu.
Penyesalan seorang anak yang muncul
karena kesuksesan yang diraih tak dapat dilihat oleh Ayahnya yang telah
meninggal dunia.
Zian hanya bisa melongo. Ia bingung
harus berekspresi apa. Terkejut? Iya. Sedih? Iya. Setelah itu, ia menyesal luar
biasa. Usahanya selama ini hanyalah untuk papinya. Tapi, sebelum itu semua
diketahui, papinya sudah tiada. Ia pun merasa berdosa tak berada di sampingnya
saat papinya menutup mata. (hal 249)
Kegigihan seorang anak dalam
mewujudkan keinginan orangtuanya, sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan.
Hanya dalam waktu dua tahun, Zara
mampu menggaet tiga perusahaan besar dari Belgia. Ia dan kakaknya membuat proposal kerja yang langsung
disetujui oleh ketiga pemimpin perusahaan itu. Alhasil, empat perusahaan besar
telah menandatangani kontrak dengan perusahaan Mozacki untuk tiga tahun
kedepan. Om Deni yang menandatangani kontrak dengan perusahaan dalam dua tahun
itu pencapaian yang luar biasa mengingat dua puluh tahun Mozacki berdiri hanya
mampu dapat dua perusahaan luar negeri. (hal 251)
Sesuatu yang tidak disukai dapat
berubah menjadi yang lebih disenangi, karena berawal dari mencoba kemudian
menjadi terbiasa.
Zara mendapat kutukan karena menjadi
sangat menyukai bisnis. Ia pun melebarkan sayapnya ke bisnis yang sedari dulu
ia penjara hanya untuk memajukan perusahaan keluarganya. Ia mulai terjun di
dunia desain. (hal 251)
Sejauh apapun persahabatan tidak
akan putus, walaupun bertahun-tahun tak berkomunikasi tetap takkan melupakan
sahabat lamanya.
Zara mengambil laptopnya dan membuka
twitter. Ia me-mention Agha dan Dewa dengan embel-embel kata hai saja. Tak
lebih dari satu menit, tweetdeck di laptopnya berbunyi. (hal 252)
Begitu lamanya di Belgia tak membuat ia lupa pada Agha dan
Dewa. Begitu lamanya ia tak menghubungi mereka tak membuat rasa dihatinya
memudar. Ia kira rasa akan hilang begitu saja seiring berjalannya waktu dan
kehadiran Raka. Tapi, nyatanya sama saja. (hal 259
Motivasi yang
diutarakan penulis melalui sikap tokoh Zara.
“tidak,” jawab Zara sambil
menggelengkan kepalanya. “Bagiku, waktu adalah waktu, bukan pedang atau uang.
Kalau aku menyia-nyiakannya, kehidupanku hanya akan dipenuhi penyesalan. Banyak
hal yang harus aku lakukan. Jadi aku butuh banyak waktu”.
Sahabat
dan lingkungan terdekat akan membuat orang tidak merasa sendirian.
“Ya gue nggak pernah sendiri, piker
Zara saat itu. Ia melihat wajah kedua sahabatnya. Ada tulus di wajah mereka.
Tidak hanya mereka, tapi keluargamereka juga, keluarga Om Deni, bahkan karyawan
perusahaan . ia tak pernah sendiri
2.
Nilai-nilai yang dapat diambil dalam Novel Without
You
Menurut peneliti novel ini sangatlah
bagus, menarik dan begitu banyak kisah yang membuat peniliti termotivasi dan
menyadarkan pengamat disetiap seluk beluk masalah sosial yang disajikan dalam
karya tersebut. Sehingga peneliti dapat mengambil suatu kesimpulan terinci dari
isi novel Without You diantaranya:
a. Setiap manusia pasti tidak dapat
hidup sendiri, dikarenakan manusia adalah zoon
policon oleh karena itu seseorang pasti ingin hidup berdampingan bersama
orang lain.
b. Kisah persahabatan yang tergambar
sangat mengharukan, rasa solidaritas yang tinggi, dan kasih sayang sahabat seperti ikatan persaudaraan yang tidak
pernah lekang sementara waktu dan keadaan mengubahnya. Begitu pentingnya
menjaga persahabatan itu, namun mempertahankannya tak terasa sulit apabila ada
rasa kesetiaan. Begitupun kala kemampuan yang tak berbeda disatukan, antara
teman satu dengan teman yang lainnya dapat saling melengkapinya.
c. Saling peduli terhadap orang lain
menjadi nilai penting pada novel ini. Jika ada orang lain kesusahan maka
berusaha membantu, dan suatu saat diri mengalami kesusahan juga, maka orang
lain tidak akan enggan untuk membantu.
d. Didalam keluarga, hendaklah adanya
saling pengertian, menerima pendapat orang lain. Terlebih orang tua yang harus
memperhatikan, membimbing dan mendukung usaha dan keinginan anak dalam
menentukan masa depan. Walaupun seorang Ayah mampu menentukan sendiri apa yang
terbaik oleh anaknya, namun perlu adanya komunikasi yang baik pada anak dalam
mengambil keputusan. Agar keputusan tersebut saling diterima satu sama lain
sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
e. Menjadi seorang anak hendaknya patuh
terhadap orang tua. Perkataan orang tua pasti ada baik dan benarnya.
Permasalahan anak dan orang tua hanya mampu diselesaikan dengan komunikasi yang
baik, tidak saling menentang apalagi menyalahkan orang tua yang bertindak
terlalu otoriter kemudian muncullah rasa marah dan kecewa terhadap orangtuanya.
Bagaiamanapun mereka harus tetap dihormati, karena kesuksesan anak tidak lepas
dari orangtua.
f. Bekerja setiap waktu membuat orang
tidak banyak memperhatikan kondisi kesehatan. Hal ini merupakan contoh yang
tidak baik, sekeras apapun dalam bekerja harus tetap menjaga tubuh agar tetap
sehat. Mengatur pola makan dan pola tidur yang cukup. Novel ini berkisah
seperti seorang Olga Syahputra yang meninggal karena penyakit serius yang
dialaminya yakni Meningitis, kebanyakan porsi kerja membuat Olga melupakan
porsi kesehatan tubuhnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Karya sastra
merupakan hasil karya cipta manusia yang merupakan hasil imajinasi dan refleksi
seorang penulis dari suatu hal yang ia rasakan, ia lihat, ia dengar, dan yang
terjadi di dalam masyarakat. Resepsi
sastra merupakan penelitian yang menfokuskan perhatian kepada pembaca, yaitu
bagaimana pembaca memberikan makna terhadap karya sastra, sehingga memberikan
reaksi terhadap teks tersebut.
Pada novel Without You terdiri dari unsure kondisi sosial yang terjadi di
lingkungan sekolah, keluarga, dan masyrakat sekitar baik yang ada didalam
negeri yakni di Jakarta maupun diluar negeri yakni di Belgia
Hubungan sosial yang digambarkan
dalam tokoh Zara yakni lingkungan yang ada keluarga dan sekitar rumahnya
bersama dengan orang-orang terdekatnya, serta lingkungan sosial ketika ia
berada di Belgia untuk menuntut ilmu di Universitas Gent.
B. Saran
Analisis ini merupakan salah satu
dari penerapan teori sosiologi sastra. Maka dari itu dibutuhkan banyak
pengetahuan lagi untuk mengkaji lebih dalam tentang analisis teori resepsi
dikarenakan minimnya pengetahuan peneliti dalam mengakajinya.
DAFTAR PUSTAKA
Puji, Kanato. 2013. Without You. Yogyakarta: Ping!!!
Nuzulia, Dian. 2011. Teori Resepsi Sastra. http://file:///C:/Users/ASUS%20X453M/Downloads/teori%20sastra/TEORI%20RESEPSI%20SASTRA%20%20%20arerariena.html (diakses tanggal 1 Mei 2015, pukul
10.44)

Minta biografi kanato puji dong ka
BalasHapusKA, ada biografi kanato puji ggk?, Kalo ada aku minta yah
BalasHapusMinta biografi kanato puji dong ka
BalasHapus