KATA
PENGANTAR
Segala puji
syukur hanyalah milik Allah Swt semesta alam yang telah memberi berbagai
nikmatnya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Ushawah kita yakni
Nabi Muhammad saw beserta keluarganya, sahabat dan umatnya yang setia mengikuti
jejak langkahnyahingga akhir zaman.
Dan
tak lupa ucapan terima kasih kepada Bpk.Octo Dendi Andrianto, selaku dosen
pembimbing dalam mata kuliah Linguistik Umum yang telah memberikan arahan
kepada kami. Dan teman-teman yang memberikan dukungan.
Mudah
mudahan makalah ini dapat bermamfaat. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin
dalam penyusunan makalah ini, namun jika masih terdapat kesalahan, penulis
mengharafkan kritik dan saran dari pembaca.
Demikian
kata pengantar ini dibuat,terima kasih
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam suatu bahasa, makna kata
saling berhubungan, hubungan ini disebut Relasi makna. Relasi makna dapat
berwujud bermacam – macam. Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa indonesia, seringkali
kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata
atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi.
Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (
sinonimi ), kebalikan makna ( Antonimi ), kegandaan makna ( polisemi dan
Ambiguitas ), ketercakupan makna (Hiponimi ), kelainan makna ( Homonimi ),kelebihan
makna (Redundansi ), dan sebagainya.
1.2 Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah mata
kuliah Linguistik Umum ini, tentang Relasi Makna adalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah ini, agar mahasiswa mengetahui tentang relaksi makna dan
pembagiannya.
1.3. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini adalah
menambah pengetahuan pembaca tentang relaksi makna dan pembagiannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. RELASI MAKNA
Dalam setiap
bahasa, termasuk bahasa indonesia, sering kali kita temui hubungan kemaknaan
atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata
atau satuan bahasa lainnya lagi. Berikut ini akan dibicarakan masalah tersebut
satu persatu.
1.
Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah
hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan
ujaran dengan satuan ujaran satuan lainnya. Misalnya, antara kata betuldengan kata benar.
Dua buah ujaran yang bersinonim
maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai
faktor, antara lain:
a. Faktor waktuumpamanya kata hulubalang bersinonim dengan kata
komandan. Maksudnya kata hulubalang digunakan oleh masyarakat zaman dulu
(klasik) sedangkan kata komandan telah umum digunakan oleh masyarakat sekarang.
b. Faktor tempat atau wilayah. Misalnya, kata saya dan beta adalah dua belah
kata yang bersinonim. Namun kata saya dapat digunakan dimana saja. Sedangkan
kata beta hanya cocok untuk wilayah bagian timur, atau dalam konteks masyarakat
yang bersal dari bagian timur.
c. Faktor keformalan. Misalnya
kata uang dan duit adalah dua bua kata yang bersinoniman. Namun kata uang dapat
digunakan dalam rangka formal dan tak formal, sedangkan kata duit hanya untuk
ragam tidak formal.
d. Fakor sosial umpamanya kata saya dan aku adalah dua kata
yang bersinonim. Tetapi kata saya dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada
siapa saja. Sedangkan kata aku hanya digunakan kepada orang yang sebaya, yang
dianggap akrab atau kepada yang lebih muda maupun yang lebih rendah sosialnya.
e. Faktor bidang kegiatan umpamanya
kata matahari dan surya adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun kata
matahari dapat digunakan secara umum, sedangkan kata surya cocok digunakan
ragam khusus terutama ragam surya.
f. Faktor nuansa makna umpamanya
kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau, dan menitip adalah sejumlah
kata yang bersinonim. Tetapi, antara satu dengan lainnya tidak selalu dapat
dipertukarkan, karena masing-masing memiliki nuansa makna yang tidak sama. Kata
melihat memiliki makna umum , kata melirik memiliki makna melihat dengan sudut
mata, kata menonton memiliki makna melihat untuk kesenangan, kata meninjau
memiliki makna melihat dari temmpat jauhdan kata mengintip memiliki makna
melihat melalui celah sempit. Dengan demikian kata-kata tersebut tidak dapat
dipertukarkan walaupun memiliki makna yang sama.
2.
Dalam buku- buku pelajaran bahasa
indonesia, antonimi biasanya disebut lawan arti kata. Sehubungan dengan ini
banyak pula yang menyebutkan oposisi makna. Dengan istilah oposisi, maka bisa
tercakup dari konsep yang betul- betul berlawanan sampai kepada yang hanya
bersifat kontras saja. Kata hidup dan mati, seperti sudah dibicarakan diatas,
bisa menjadi contoh berlawanan.
Lebih jauh,
berdasarkan sifatnya, oposisi ini dapat dibedakan menjadi empat diantaranya :
a.
Antonimi
bersifat mutlak
|
Hidup x
|
Mati
|
|
Tua x
|
Muda
|
|
|
|
|
|
|
b.
Antonimi
bersifat relatif
|
Besar x
|
Kecil
|
|
Kurus x
|
Gemuk
|
|
Jauh x
|
Dekat
|
|
Gelap x
|
Terang
|
|
|
|
c.
Antonimi
bersifat relasional
|
suami
|
Istri
|
|
guru x
|
Murid
|
|
Penjua l x
|
Pembeli
|
|
pembicara x
|
Pendengar
|
d.
Antonimi
bersifat hierarkial
|
|
![]() |
Duduk
|
|
|
|
Tidur
|
|
Berdiri
|
![]() |
Tiarap
|
|
|
|
Jongkok
|
|
|
|
Bersila
|
3.
Polisemi
Polisemi
berkaitan dengan kata atau frasa yang berhubungan. Hubungan antar makna ini
disebut polisemi. Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi jika kata itu
mempunyai makna lebih dari satu.
Kepala
Mengandung makna :
a.
Bagian tubuh manusia
-
Kepalanya luka kena pecahan kaca
b.
Ketua atau pemimpin
-
Kepala kantor itu paman saya
c.
Sesuatu yang ada diatas
-
Kepala surat biasanya berisi nama
dan alamat kantor
d.
Sesuatu yang bebentuk bulat
-
Kepala jarum itu terbuat dari platik
e.
Sesuatu bagian yang sangat penting
-
Yang duduk dikepala meja itu tentu
orang penting
4.
Homonimi
Homonimi
yaitu relasi makna antarkata yang ditulis sama dan dilafalkan sama, tetapi
maknanya berbeda. Contoh :
a.
kata pacar yang berarti inai dengan
pacar yang berarti kekasih.
b.
kata bisa yang berarti racun ular
dengan kata bisa yang berarti sanggup, dapat.
Homonimi
dibagi menjadi dua :
a. Homofoni adalah adanya persamaan bunyi (fon)
antara dua satuan ujaran, tanpa memperhatikan ejaannya. Contoh :
-
bang toyib mengambil uang dibank
BRI, maksudnya bank itu lembaga keuangan sedangkan bang (singkatan dari abang)
yang bermakna kakak laki-laki.
-
Saya masih sangsi dengan sanksi yang
ditentukan oleh comting, maksudnya sangsi berarti ragu-ragu dan sanksi berarti
konsekuensi.
b. Homografi adalah
mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak
sama. Contoh :
-
Ketika comting sedang apel kerumah
pacarnya dia membawakan satu kilo apel.
-
Ketika memerah sapi tangannya
memerah
5.
Hiponimi dan hipernimi
Hiponimi merupakan
bagian dari hipernim. Kata yang cakupan maknanya lebih sempit.
Hipernimi merupakan
kata yang cakupannya luas.
|
Hipernim
|
Hiponimi
|
|
Ikan
|
Lele,
Gurame, Kakap
|
|
Bunga
|
Mawar,
Melati, Anggrek
|
|
Unggas
|
Ayam,
Burung, Itik
|
6.
Ambiguiti
Ambiguiti
adalah kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Contoh:
Buku sejarah
baru
Dapat
ditafsirkan maknanya menjadi
1.
Buku sejarah itu baru terbit.
2.
Buku itu mempunyai sejarah zaman
baru.
7.
Redundansi
Redundansi
adalah berlebih- lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Contoh:
a.
Nita
mengenakan baju berwarna merah, tidak akan berbeda maknanya jika
dikatakan Nita berbaju merah.Maka bentuk
pertama disebut redundans, terlalu berlebih-lebihan dalam menggunakan
kata-kata.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa
indonesia, makna kata saling berhubungan,hubungan ini disebut relasi
makna.relasi makna dapat berwujud macam-macam. Antara
lain; homonini, polisemi, sinomini, antinimi, hiponimi, meronimi, makna
ambiguitas,dan redundansi.
3.2 Saran
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk
menyempurnakan penulisan makalah ini.namun apabila terjadi kesalahan dari
penulis mohon dimaafkan,dan penulis senantiasa menerima kritik dan saran dari
pembaca sebagai perbaikan makalah kedepannya,saran penulis kepada pembaca
adalah agar kita tetap selalu memahami,mempelajari dan menerapkan komunikasi
bahasa dalam kehidupan sehari-hari


Tidak ada komentar:
Posting Komentar