Selasa, 26 Mei 2015

KATA PENGANTAR

            Segala puji syukur hanyalah milik Allah Swt semesta alam yang telah memberi berbagai nikmatnya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Ushawah kita yakni Nabi Muhammad saw beserta keluarganya, sahabat dan umatnya yang setia mengikuti jejak langkahnyahingga akhir zaman.
            Dan tak lupa ucapan terima kasih kepada Bpk.Octo Dendi Andrianto, selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Linguistik Umum yang telah memberikan arahan kepada kami. Dan teman-teman yang memberikan dukungan.
            Mudah mudahan makalah ini dapat bermamfaat. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan makalah ini, namun jika masih terdapat kesalahan, penulis mengharafkan kritik dan saran dari pembaca.
            Demikian kata pengantar ini dibuat,terima kasih


                                                                                      Penyusun



BAB  I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Dalam suatu bahasa, makna kata saling berhubungan, hubungan ini disebut Relasi makna. Relasi makna dapat berwujud bermacam – macam. Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna ( sinonimi ), kebalikan makna ( Antonimi ), kegandaan makna ( polisemi dan Ambiguitas ), ketercakupan makna (Hiponimi ), kelainan makna ( Homonimi ),kelebihan makna (Redundansi ), dan sebagainya.
1.2  Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah mata kuliah Linguistik Umum ini, tentang Relasi Makna adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah ini, agar mahasiswa mengetahui tentang relaksi makna dan pembagiannya.
1.3. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini adalah menambah pengetahuan pembaca tentang relaksi makna dan pembagiannya.
                                        

BAB II
PEMBAHASAN

A.    RELASI MAKNA
            Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa indonesia, sering kali kita temui hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Berikut ini akan dibicarakan masalah tersebut satu persatu.
1.     Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran satuan lainnya. Misalnya, antara kata betuldengan kata benar.
Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai faktor, antara lain:
a.     Faktor waktuumpamanya  kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Maksudnya kata hulubalang digunakan oleh masyarakat zaman dulu (klasik) sedangkan kata komandan telah umum digunakan oleh masyarakat sekarang.
b.     Faktor tempat atau wilayah.  Misalnya, kata saya dan beta adalah dua belah kata yang bersinonim. Namun kata saya dapat digunakan dimana saja. Sedangkan kata beta hanya cocok untuk wilayah bagian timur, atau dalam konteks masyarakat yang bersal dari bagian timur.
c.    Faktor keformalan. Misalnya kata uang dan duit adalah dua bua kata yang bersinoniman. Namun kata uang dapat digunakan dalam rangka formal dan tak formal, sedangkan kata duit hanya untuk ragam tidak formal.
d.   Fakor sosial  umpamanya kata saya dan aku adalah dua kata yang bersinonim. Tetapi kata saya dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja. Sedangkan kata aku hanya digunakan kepada orang yang sebaya, yang dianggap akrab atau kepada yang lebih muda maupun yang lebih rendah sosialnya.
e.   Faktor bidang kegiatan umpamanya kata matahari dan surya adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun kata matahari dapat digunakan secara umum, sedangkan kata surya cocok digunakan ragam khusus terutama ragam surya.
f.    Faktor nuansa makna umpamanya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau, dan menitip adalah sejumlah kata yang bersinonim. Tetapi, antara satu dengan lainnya tidak selalu dapat dipertukarkan, karena masing-masing memiliki nuansa makna yang tidak sama. Kata melihat memiliki makna umum , kata melirik memiliki makna melihat dengan sudut mata, kata menonton memiliki makna melihat untuk kesenangan, kata meninjau memiliki makna melihat dari temmpat jauhdan kata mengintip memiliki makna melihat melalui celah sempit. Dengan demikian kata-kata tersebut tidak dapat dipertukarkan walaupun memiliki makna yang sama.
2.     Dalam buku- buku pelajaran bahasa indonesia, antonimi biasanya disebut lawan arti kata. Sehubungan dengan ini banyak pula yang menyebutkan oposisi makna. Dengan istilah oposisi, maka bisa tercakup dari konsep yang betul- betul berlawanan sampai kepada yang hanya bersifat kontras saja. Kata hidup dan mati, seperti sudah dibicarakan diatas, bisa menjadi contoh berlawanan.
Lebih jauh, berdasarkan sifatnya, oposisi ini dapat dibedakan menjadi empat diantaranya :
a.      Antonimi bersifat mutlak
Hidup              x
Mati
Tua                  x
Muda




b.     Antonimi bersifat relatif
Besar               x
Kecil
Kurus              x
Gemuk
Jauh                 x
Dekat
Gelap              x
Terang



c.      Antonimi bersifat relasional
suami
Istri
guru                 x
Murid
Penjua l           x
Pembeli
pembicara       x
Pendengar
d.     Antonimi bersifat hierarkial

Duduk

Tidur
Berdiri
Tiarap


Jongkok


Bersila
3.     Polisemi
Polisemi berkaitan dengan kata atau frasa yang berhubungan. Hubungan antar makna ini disebut polisemi. Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi jika kata itu mempunyai makna lebih dari satu.
Kepala
Mengandung makna :
a.      Bagian tubuh manusia
-        Kepalanya luka kena pecahan kaca
b.     Ketua atau pemimpin
-        Kepala kantor itu paman saya
c.      Sesuatu yang ada diatas
-        Kepala surat biasanya berisi nama dan alamat kantor
d.     Sesuatu yang bebentuk bulat
-        Kepala jarum itu terbuat dari platik
e.      Sesuatu bagian yang sangat penting
-        Yang duduk dikepala meja itu tentu orang penting
4.     Homonimi
Homonimi yaitu relasi makna antarkata yang ditulis sama dan dilafalkan sama, tetapi maknanya berbeda. Contoh :
a.      kata pacar yang berarti inai dengan pacar yang berarti kekasih.
b.     kata bisa yang berarti racun ular dengan kata bisa yang berarti sanggup, dapat.
Homonimi dibagi menjadi dua :
a.     Homofoni  adalah adanya persamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran, tanpa memperhatikan ejaannya. Contoh :
-        bang toyib mengambil uang dibank BRI, maksudnya bank itu lembaga keuangan sedangkan bang (singkatan dari abang) yang bermakna kakak laki-laki.
-        Saya masih sangsi dengan sanksi yang ditentukan oleh comting, maksudnya sangsi berarti ragu-ragu dan sanksi berarti konsekuensi.

b.     Homografi adalah mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contoh :
-        Ketika comting sedang apel kerumah pacarnya dia membawakan satu kilo apel.
-        Ketika memerah sapi tangannya memerah
5.     Hiponimi dan hipernimi
Hiponimi merupakan bagian dari hipernim. Kata yang cakupan maknanya lebih sempit.
Hipernimi merupakan kata yang cakupannya luas.
Hipernim
Hiponimi
Ikan
Lele, Gurame, Kakap
Bunga
Mawar, Melati, Anggrek
Unggas
Ayam, Burung, Itik

6.     Ambiguiti
Ambiguiti adalah kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Contoh:
Buku sejarah baru
Dapat ditafsirkan maknanya menjadi
1.     Buku sejarah itu baru terbit.
2.     Buku itu mempunyai sejarah zaman baru.



7.     Redundansi
Redundansi adalah berlebih- lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Contoh:
a.      Nita mengenakan baju berwarna merah, tidak akan berbeda maknanya jika dikatakan Nita berbaju merah.Maka bentuk pertama disebut redundans, terlalu berlebih-lebihan dalam menggunakan kata-kata.














BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa indonesia, makna kata saling berhubungan,hubungan ini disebut relasi makna.relasi makna dapat berwujud macam-macam. Antara lain; homonini, polisemi, sinomini, antinimi, hiponimi, meronimi, makna ambiguitas,dan redundansi.

3.2 Saran
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan penulisan makalah ini.namun apabila terjadi kesalahan dari penulis mohon dimaafkan,dan penulis senantiasa menerima kritik dan saran dari pembaca sebagai perbaikan makalah kedepannya,saran penulis kepada pembaca adalah agar kita tetap selalu memahami,mempelajari dan menerapkan komunikasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari