Selasa, 26 Mei 2015

KALIMAT EFEKTIF
MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH “BAHASA INDONESIA”
Dosen Pengampu :
Ibu Hani’ah, M.Pd

logo-utm-kemdikbud-2012.jpg

DISUSUN OLEH :
1.     UMI MUNAWAROH             (140621100100)
2.      ULFA SUFIYA RAHMAH    (140621100112)
3.      MUTMAINAH                       (140621100091)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
TAHUN 2014/2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat;Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Kalimat Efektif. Maklah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah umum Bahasa Indonesia.
Kami mengucapkan terima kasih atas semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Maklah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.a

                                                                                                     Penyusun       



DAFTAR ISI
Sampul ………………………………………………………………… i
Kata Pengantar ………………………………………………………... ii
Daftar Isi ………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.     Latar Belakang …………………………………………………….. 1
2.     Rumusan Masalah …………………………………………………. 1
3.     Tujuan ………………………………………………………………1
BAB II PEMBAHASAN
1.     Kalimat Efektif ………………………………………………..…..... 2
2.     Ciri-ciri Kalimat Efektif dan Contohnya …………….……………. 2
BAB III PENUTUP
1.     Kesimpulan ………………………………………………………….12
2.     Saran …………………………...……………………………………12

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………13


 BAB I
PENDAHULUAN

a.      Latar Belakang
 Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi antara manusia dengan sesama anggota masyarakat. Bahasa sebagai alat komunukasi tidak diragukan lagi keampuhannya dibandingkan dengan media komunukasi lainnya. Betapa pun canggihnya, tetap bahasa itu memiliki peran yang sangat penting dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan.
Bahasa berisi pikiran, keinginan atau perasaan yang ada pada pembicara atau pun penulis. Bahasa yang digunakan hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan dapat diterima pendengar atau pembaca.
Mereka yang terlibat dalam jaringan komunikasi masyarakat memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan itu antara lain: ia harus menguasai sejumlah kosa kata yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu pula menggerakkan kekeyaannya itu menjadi jaringan-jaringan kalimat yang jelas dan efektif, sesuia dengan kaidah sintaksis yang berlaku, untuk menyampaikan rangkaian pikiran dan perasaannya, untuk menyampaikan rangkaian pikiran dan perasaannya kepada orang lain.4
b.     Rumusan Masalah
1.    Bagaimana pengertian dari kalimat efektif?
2.    Bagaimana ciri-ciri dari kalimat efektif  beserta contoh-contoh kalimat efektif yang baik dan benar?

c.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan penggunaan kalimat efektif yang baik dan benar sesuai kaidah kebahasaan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kalimat Efektif1
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan penulis sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Kalimat efektif lebih mengutamakan kejelasan maksud kalimat sehingga pembaca tidak sulit menerima informasi atau gagasan yang disampaikan secara tertulis.

B.    Ciri-ciri Kalimat Efektif
Kalimat efektif memiliki ciri-ciri yang khas dalam khasanah bahasa Indonesia. Adapun ciri-ciri tersebut akan diuraikan dalam pembahasan selanjutnya, yang meliputi: a) kesepadanan struktur gramatikal, b) ketepatan pilihan kata, c) ketegasan, d) kehematan, e) kecermatan, f) keserasian (kepaduan), dan g)  kelogisan (masuk akal).

a.     Kesepadanan Struktur Gramatikal1
Kalimat gramatikal adalah kalimat yang disusun mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Makna gramatikal dapat muncul setelah adanya dua kata atau lebih yang begabung menjadi satuan bahasa (frasa bahasa), adanya afiksasi (imbuhan kata).2 Kesepadanan struktur gramatikal diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Kesepadanan struktur gramatikal kalimat memiliki beberapa ciri, seperti tercantum dibawah ini.
1.     Kalimat efektif memiliki subjek (S) dan predikat (P) yang jelas. Kejelasan S dan P dapat dilakukan dengan menghindari penggunaan kata depan (preposisi) di depan S dan P. Contoh:
TIDAK GRAMATIKAL
GRAMATIKAL
Bagi semua mahasiswa baru wajib melakukan daftar ulang.
Semua mahasiswa baru wajib melakukan daftar ulang.
Karena kakinya sakit, dia untuk  tidak berjalan jauh-jauh.
Karena kakinya sakit, dia  tidak berjalan jauh-jauh.

2.     Kalimat efektif terhindar dari penggunaan S ganda.
TIDAK GRAMATIKAL
GRAMATIKAL
Penyusunan proposal skripsi ini saya dibantu dosen pembimbing.
Penyusunan proposal skripsi ini, saya dibantu dosen pembimbing.
Pengarahan kakak senior saya kurang dapat diterima.
Pengarahan kakak senior bagi saya kurang dapat diterima.

3.     Kalimat efektif tidak menggunakan konjungsi koordinatif atau subordinatif pada awal kalimat.
TIDAK GRAMATIKAL
GRAMATIKAL
Kami datang terlambat. Sehingga kami dikenakan sanksi.
Kami datang terlambat sehingga dikenakan sanksi.
Mahasiswa baru mengikuti Ormaba. Sedangkan mahasiswa lama melakukan daftar ulang.
Mahasiswa baru mengikuti Ormaba sedangkan mahasiswa lama melakukan daftar ulang.

4.     Kalimat efektif terhindar dari intervensi padanan kata bahasa lain.
TIDAK GRAMATIKAL
GRAMATIKAL
Meskipun orang asing, dia pandai bicara bahasa Indonesia.
Meskipun orang asing, dia pandai berbicara bahasa Indonesia.
Hari ini dia mau pergi Surabaya.
Hari ini dia mau pergi ke Surabaya.
Dia tidak ngambil buku saya.
Dia tidak mengambil buku saya.

5.     Subyek pada kalimat efektif  tidak didahului kata depan.
TIDAK GRAMATIKAL
GRAMATIKAL
Untuk pengelolaan nilai di Unijoyo menggunakan sistem komputeri-sasi.
Pengelolaan nilai di Unijoyo menggunakan sistem komputeri-sasi.
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.

6.     Predikat pada kalimat efektif tidak didahului kata yang.
TIDAK GRAMATIKAL
GRAMATIKAL
Pengembangan sistem pembinaan kemahasiswaan yang perlu ditingkatkan.
Pengembangan sistem pembinaan kemahasiswaan perlu ditingkatkan.
Keberadaan BEM di masing-masing fakultas yang mendorong aktivitas mahasiswa.
Keberadaan BEM di masing-masing fakultas mendorong aktivitas mahasiswa.

7.     Kalimat efektif tidak menggunakan kata penghubung yang bertentangan dalam satu kalimat.
TIDAK GRAMATIKAL
GRAMATIKAL
Meskipun penelitian ini telah dilakukan sesuai dengan rancangan, tetapi hasil-hasil yang diperoleh belum memuaskan.
Meskipun penelitian ini telah dilakukan sesuai dengan rancangan, hasil-hasil yang diperoleh belum memuaskan.



8.     Kalimat efektif dibentuk dari urutan/rangkaian kata yang tepat.
TIDAK GRAMATIKAL
GRAMATIKAL
Kekalahan dalam persidangan itu mereka segera akan laporkan pada kliennya.
Kekalahan dalam persidangan itu akan segera mereka laporkan pada kliennya.
Jangan bertindak emosional, saya ingin  jelaskan permasalahan yang sebenarnya.
Jangan bertindak emosional, ingin saya jelaskan permasalahan yang sebenarnya.

b.     Ketepatan Pilihan Kata (Diksi)
Pilihan kata atau diksi memegang peranan penting di dalam komunikasi baik tulis maupun lisan. Diksi yang tepat dapat memperjelas makna suatu kalimat. Keraf (1981:21-23) mengungkapkan pilihan kata sangat ditentukan oleh faktor makna dan konteks peemakaiannya. Konteks yang berbeda akan menentukan diksi yang berbeda pula. Bahkan bentuk kata yang sama dapat mempunyai makna yang lain karena situasi pemakaian yang berbeda-beda.3
Contoh gambaran yang jelas terhadap ketepatan pilihan kata.
DIKSI KURANG TEPAT
DIKSI TEPAT
Dalam hal ini dapat dibilang bahwa bahasa Indonesia belum menjadi
Dalam hal ini dapat dikatakan  bahwa bahasa Indonesia belum menjadi
1.      Idul fitri ialah hari besar umat islam
2.      Idul fitri ialah hari agung  umat islam
Idul fitri ialah hari raya umat islam
1.      Jaksa raya Bagir Manan menolak panggilan BPK.
2.      Jaksa raya Bagir Manan menolak panggilan BPK.
Jaksa Agung Bagir Manan menolak panggilan BPK.

Saya suka melihat pertunjukan wayang kulit.
Saya suka menonton  pertunjukan wayang kulit.
c.      Ketegasan
Ketegasan kalimat adalah suatu perlakuan atau pemberian penekanan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberikan penekanan atau ketegasan pada penonjolan tersebut. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat. Berbagai cara tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.     Meletakkan kata yang ditonjolkan untuk mengawali kalimat.
TIDAK TEGAS
TEGAS
Harapan rektor ialah mahasiswa dapat belajar dengan baik dan meraih prestasi yang maksimal.
Rektor mengharapkan agar mahasiswa dapat belajar dengan baik dan meraih prestasi yang maksimal

2.     Membuat urutan yang logis
TIDAK TEGAS
TEGAS
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi sudah berjuta-juta uangnya disalurkan dalam pembangunan masjid di kampungnya.
Bukan seratus , seribu, atau sejuta, , tetapi sudah berjuta-juta uangnya disalurkan dalam pembangunan masjid di kampungnya.

3.     Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
TIDAK TEGAS
TEGAS
Anak itu tidak malas, rajin bekerja.
Anak itu tidak malas, tetapi rajin bekerja.

4.     Menggunakan partikel penekanan.
TIDAK TEGAS
TEGAS
Saudara yang bertanggung jawab terhadap ketidakstabilan kehidupan di kampus ini.
Saudaralah  yang bertanggung jawab terhadap ketidakstabilan kehidupan di kampus ini.


d.     Kehematan
Kalimat yang hemat adalah kalimat yang tidak mengandung unsue mubazir dalam penggunaan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti menghilangkan seluruh bagian kalimat yang dapat memperjelas kalimat. Akan tetapi, kehematan mempunyai arti penghematan terhadap kata, frasa, atau bagian lain yang tidak diperlukan dan tidak menyalahi kaidah tata bahasa Indonesia. Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dengan kehematan dalam kalimat efektif, sebagaimana dijelaskan berikut ini.

1.     Kalimat efektif tidak menggunakan dua kata atau lebih yang bermakna sama (sinonim) atau kata yang mubazir dalam satu kalimat.
MUBAZIR
HEMAT
Korupsi ialah merupakan kejahatan yang menyengsarakan rakyat.
Korupsi merupakan kejahatan yang menyengsarakan rakyat.
Penelitian ini membicarakan tentang pengaruh masyarakat yang mengerti hukum dan buta hukum.
Penelitian ini membicarakan pengaruh masyarakat yang mengerti hukum dan buta hukum.

2.     Kalimat efektif tidak menggunakan pengulangan subyek.
MUBAZIR
HEMAT
Semua mahasiswa serentak berdiri setelah mereka mengetahui rektor datang.
Semua mahasiswa serentak berdiri setelah mengetahui rektor datang.

3.     Kalimat efektif tidak menggunakan hipernim dari kata yang berhiponim.
MUBAZIR
HEMAT
Jaket alamamater mahasiswa Unijoyo berwarna biru.
Jaket alamamater mahasiswa Unijoyo biru.
Para pimpinan itu gemar menghisap rokok cerutu.
Para pimpinan itu gemar menghisap  cerutu.

4.     Kalimat efektif tidak menggunakan kata bantu yang tidak perlu.
MUBAZIR
HEMAT
Kesemuanya ini disebabkan kenyatan bahwa pembaca surat kabar rata-rata pembaca kilat.
Kesemuanya ini disebabkan kenyatan pembaca surat kabar rata-rata pembaca kilat.
Presiden mengatkan bahwa kerjasama ASEAN perlu ditingkatkan.
Presiden mengatkan kerjasama ASEAN perlu ditingkatkan.

e.     Kerancuan dalam Bahasa Indonesia
Kerancuan adalah gejala bahasa yang terjadi akibat masuknya unsur bahasa tertentu (bahasa Indonesia). Dalam bahasa Indonesia, hal itu diistilahkan kontaminasi. Rancu ialah kacau. Kerancuan bahasa ialah kekacauan dalam bahasa. Kerancuan dapat terjadi dalam susunan/ penggabungan atau pun pembentukan kata, frasa, dan kalimat.
1.     Kerancuan Kata
Kerancuan pada tingkat kata dapat terjadi karena penggabungan dua kata yang berbeda dilakukan secara tepat untuk membentuk kata baru.
Contoh:
a.      Sudah berulangkali ia dinasehati keluarganya.
Kalimat diatas merupakan kalimat tidak tepat, seharusnya tidak perlu menggunakan penggabungan dua kata, cukup dengan mengulang kata-kata tersebut, yaitu: berulang-ulang atau berkali-kali. Perbaikan kalimat sebagai berikut.
-        Sudah berulang-ulang  ia dinasehati keluarganya.
-        Sudah berkal-kali ia dinasehati keluarganya.
b.     Ia seringkali tidak mengerjakan tugas kuliah.
Seringkali merupakan kontaminasi dari ‘sering’ dan ‘banyak sekali’ atau ‘berkali-kali’. Jika ditulis seringkali berarti maknanya ‘banyak berkali-kali. Perbaikan kalimat sebagai berikut.
-        Ia sering tidak mengerjakan tugas kuliah.

2.     Kerancuan Frasa
Kerancuan ini terdapat dua frasa yang berbeda digabungkan dalam bentuk frasa yang baru. Penggunaan frasa yang salah dan seriing digunakan dapat dilihat pada contoh berikut.
a.      Pengendara belok kiri boleh langsung.
Frasa ‘Belok kiri boleh langsung’ merupakan bentuk rancu penggabungan beberapa frasa, yaitu: belok kiri dan boleh langsung. Apabila yang dimaksudkan ialah pengendara boleh langsung belok ke kiri, penulisan yang tepat sebagai berikut.
-        Pengendara boleh langsung belok kiri
b.     Jangan boleh ia pergi dari sini.
Frasa tersebut merupakan bentuk rancu dari ‘jangan biarkan’ dan ‘tidak boleh’. Dengan demikian kalimat yang tepat sebagai berikut.
-        Jangan biarkan ia pergi dari sini.
-        Tidak boleh ia pergi dari sini.

3.     Kerancuan Kalimat
Kerancuan kalimat ialah kalimat dengan susunan yang kacau. Akan tetapi, susunan kata atau frasa dalam kalimat tersebut dianggap sebagai sesuatu yang khas sehingga tidak dianggap salah. Pada umumnya kalimat yang rancu terdiri atas dua bagian yang  tidak sesuai. Hal itu dapat dilihat pada contoh-contoh berikut.
1.     Para mahasiswa telah menyelesaikan tugas kemudian diserahkan kepada dosen.
Kalimat diatas rancu karena menggabungkan dua kalimat yang konsepnya berbeda, yaitu kalimat aktif dan kalimat pasif. Penulisan yang tepat sebagai berikut.
-        Para mahasiswa menyelesaikan tugas. Tugasnya diserahkan kepada dosen.
-        Para mahasiswa menyelesaikan tugas, kemudian menyerahkannya kepada dosen.
f.      Ketaksaan
Ketaksaan atau ambivalen ialah persaan tidak sadar yang saling bertentangan terhadap situasi yang sama. Ambivalen dapat juga diartikan sebagai kebingungan, keadaan, sikap, atau perasaan yang bertentangan dengan seseorang pada waktu yang sama.
Dalam kajian ini, yang dimaksud ambivalen ialah ketaksaan atau kemungkinan makna ganda pada kata atau rangkaian kat, baik yang berupa frasa, klausa, dan kalimat.
1.     Yang termasuk kata tingkat kata ialah semua kata yang tergolong polisemi, yaitu satu kata yang memiliki beberapa makna (pengertian). Contoh:
a.      Kandungan
:
Unsur, organ tubuh wanita.
b.     Kepala
:
Pimpinan, anggota tubuh.
c.      Kaki
:
Bagin akhir/bawah, anggota tubuh.
d.     Ramah tamah
:
Sifat, acara makan-makan.
e.      Canggih
:
Rumit, banyak unsur, modern, utama, lain dari yang lain.
2.     Yang termasuk kata tingkat frasa ialah gabungan kata yang tidak predikatif yang memiliki makna lebih dari satu. Contoh:
a.      Bebas parkir
:
Parkir gratis, tidak boleh parkir.
b.     Hapus papan tulis
:
Meniadakan papan tulis, menghapus tulisan.

3.     Yang termasuk kata tingkat klausa ialah gabungan kata yang memenuhi unsur sebagai bagian kalimat yang berstruktur gramatikal subjek dan predikat, tetapi memiliki makna lebih dari satu. Padahal satu klausa hanya memiliki satu makna. Contoh:
Terima kasih untuk tidak merokok
Seharusnya
:
-        Terima kasih karena Anda tidak merokok, atau
-        terima kasih untuk yang tidak merokok
4.     Ketaksaan dalam kalimat juga sering terjadi, yaitu ketaksaan yang disebabkan kalimat yang disusun memiliki makna ganda atau membingungkan. Contoh:
HARAP TURUN BANYAK ANAK KECIL
Seharusnya
:
-        Pengendara diharap turun karena banyak anak kecil.
HARAP PELAN-PELAN BANYAK ANAK KECIL
Seharusnya
:
-        Berkendaraanlah dengan pelan-pelan karena banyak anak kecil.

Contoh lain penggunaan klimat yang bermakna ganda.
Kucing itu makan tikus mati.
makna
:
1.     Kucing itu makan tikus yang sudah mati. (tikus mati)
2.     Kucing itu mati karena makan tikus. (kucing mati)
Anak perwira tinggi yang rendah hati.
makna
:
1.     Perwira tinggi yang rendah hati mempunyai anak. (perwira tinggi rendah hati)
2.     Perwira tinggi itu mempunyai anak yang rendah hati. (anak rendah hati)



BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan
Mereka yang terlibat dalam jaringan komunikasi masyarakat memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan itu antara lain: ia harus menguasai sejumlah kosa kata yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu pula menggerakkan kekeyaannya itu menjadi jaringan-jaringan kalimat yang jelas dan efektif, sesuia dengan kaidah sintaksis yang berlaku, untuk menyampaikan rangkaian pikiran dan perasaannya, untuk menyampaikan rangkaian pikiran dan perasaannya kepada orang lain.
Kalimat efektif memiliki ciri-ciri yang khas dalam khasanah bahasa Indonesia. Adapun ciri-ciri tersebut meliputi: a) kesepadanan struktur gramatikal, b) ketepatan pilihan kata, c) ketegasan, d) kehematan, e) kecermatan, f) keserasian (kepaduan), dan g)  kelogisan (masuk akal).

b.     Saran
Dengan disusunnya makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan kalimat efektif dalam kehidupan sehari-hari. Baik pemakaian pilihan kata yang baik dan tepat maupun penggunaan kalimat yang sesuai situasi dalam penyampaiannya.


DAFTAR PUSTAKA
1
Tim MKU. 2012. Bahasa Indonesia Kontekstual. Surabaya: Pustaka Radja.

2
Mahakam, Embun. 2012. “Jenis Kalimat Menurut Struktur”, (online), (http://embun-mahakam.blogspot.com/, diakses 20 September 2014).

3
Astuti, Wiwiek Dwi dkk. 2010. Kebakuan Bahasa Ajar di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Bahasa.

4
Keraf, Gorys. 2002. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar