KALIMAT EFEKTIF
MAKALAH
INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH “BAHASA INDONESIA”
Dosen
Pengampu :
Ibu
Hani’ah, M.Pd

DISUSUN
OLEH :
1. UMI
MUNAWAROH (140621100100)
2. ULFA
SUFIYA RAHMAH (140621100112)
3.
MUTMAINAH (140621100091)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TRUNOJOYO MADURA
TAHUN
2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat;Nya kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Kalimat Efektif. Maklah ini diajukan guna
memenuhi tugas mata kuliah umum Bahasa Indonesia.
Kami
mengucapkan terima kasih atas semua pihak yang telah membantu sehingga makalah
ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Maklah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan
demi sempurnanya makalah ini.
Semoga
makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfaat untuk pengembangan
wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.a
Penyusun
DAFTAR ISI
Sampul ………………………………………………………………… i
Kata Pengantar ………………………………………………………... ii
Daftar Isi ………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang …………………………………………………….. 1
2.
Rumusan Masalah …………………………………………………. 1
3. Tujuan ………………………………………………………………1
BAB II PEMBAHASAN
1.
Kalimat Efektif ………………………………………………..…..... 2
2. Ciri-ciri Kalimat Efektif dan Contohnya …………….……………. 2
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan ………………………………………………………….12
2. Saran …………………………...……………………………………12
DAFTAR PUSTAKA
……………………………………………………13
BAB I
PENDAHULUAN
a.
Latar Belakang
Bahasa adalah alat
untuk berkomunikasi antara manusia dengan sesama anggota masyarakat. Bahasa
sebagai alat komunukasi tidak diragukan lagi keampuhannya dibandingkan dengan
media komunukasi lainnya. Betapa pun canggihnya, tetap bahasa itu memiliki
peran yang sangat penting dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan.
Bahasa berisi pikiran, keinginan atau perasaan yang ada pada
pembicara atau pun penulis. Bahasa yang digunakan hendaklah dapat mendukung
maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan dapat
diterima pendengar atau pembaca.
Mereka yang terlibat dalam jaringan komunikasi masyarakat
memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan itu antara lain: ia
harus menguasai sejumlah kosa kata yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta
mampu pula menggerakkan kekeyaannya itu menjadi jaringan-jaringan kalimat yang
jelas dan efektif, sesuia dengan kaidah sintaksis yang berlaku, untuk
menyampaikan rangkaian pikiran dan perasaannya, untuk menyampaikan rangkaian
pikiran dan perasaannya kepada orang lain.4
b. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana pengertian dari kalimat efektif?
2.
Bagaimana ciri-ciri dari kalimat efektif beserta contoh-contoh kalimat efektif yang
baik dan benar?
c. Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan penggunaan
kalimat efektif yang baik dan benar sesuai kaidah kebahasaan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Kalimat
Efektif1
Kalimat
efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali
gagasan-gagasan penulis sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Kalimat efektif
lebih mengutamakan kejelasan maksud kalimat sehingga pembaca tidak sulit
menerima informasi atau gagasan yang disampaikan secara tertulis.
B. Ciri-ciri Kalimat Efektif
Kalimat
efektif memiliki ciri-ciri yang khas dalam khasanah bahasa Indonesia. Adapun
ciri-ciri tersebut akan diuraikan dalam pembahasan selanjutnya, yang meliputi: a)
kesepadanan struktur gramatikal, b) ketepatan pilihan kata, c) ketegasan, d) kehematan,
e) kecermatan, f) keserasian (kepaduan), dan g) kelogisan (masuk akal).
a.
Kesepadanan
Struktur Gramatikal1
Kalimat
gramatikal adalah kalimat yang disusun mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang
berlaku. Makna gramatikal dapat muncul setelah adanya dua kata atau lebih yang
begabung menjadi satuan bahasa (frasa bahasa), adanya afiksasi (imbuhan kata).2
Kesepadanan struktur gramatikal diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang
kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Kesepadanan struktur gramatikal kalimat
memiliki beberapa ciri, seperti tercantum dibawah ini.
1. Kalimat
efektif memiliki subjek (S) dan predikat (P) yang jelas. Kejelasan S dan P
dapat dilakukan dengan menghindari penggunaan kata depan (preposisi) di depan S
dan P. Contoh:
TIDAK
GRAMATIKAL
|
GRAMATIKAL
|
Bagi
semua mahasiswa baru wajib melakukan daftar ulang.
|
Semua
mahasiswa baru wajib melakukan daftar ulang.
|
Karena kakinya sakit, dia untuk tidak berjalan jauh-jauh.
|
Karena kakinya sakit, dia tidak berjalan jauh-jauh.
|
2. Kalimat
efektif terhindar dari penggunaan S ganda.
TIDAK
GRAMATIKAL
|
GRAMATIKAL
|
Penyusunan
proposal skripsi ini saya dibantu dosen
pembimbing.
|
Penyusunan proposal skripsi ini, saya dibantu dosen pembimbing.
|
Pengarahan
kakak senior saya kurang dapat
diterima.
|
Pengarahan
kakak senior bagi saya kurang dapat
diterima.
|
3. Kalimat
efektif tidak menggunakan konjungsi koordinatif atau subordinatif pada awal
kalimat.
TIDAK
GRAMATIKAL
|
GRAMATIKAL
|
Kami datang terlambat. Sehingga kami dikenakan sanksi.
|
Kami datang terlambat sehingga dikenakan sanksi.
|
Mahasiswa baru mengikuti Ormaba. Sedangkan mahasiswa lama melakukan
daftar ulang.
|
Mahasiswa baru mengikuti Ormaba sedangkan mahasiswa lama melakukan
daftar ulang.
|
4. Kalimat
efektif terhindar dari intervensi padanan kata bahasa lain.
TIDAK
GRAMATIKAL
|
GRAMATIKAL
|
Meskipun orang asing, dia pandai bicara bahasa Indonesia.
|
Meskipun orang asing, dia pandai berbicara bahasa Indonesia.
|
Hari ini dia mau pergi Surabaya.
|
Hari ini dia mau pergi ke Surabaya.
|
Dia tidak ngambil buku saya.
|
Dia tidak mengambil buku saya.
|
5. Subyek
pada kalimat efektif tidak didahului
kata depan.
TIDAK
GRAMATIKAL
|
GRAMATIKAL
|
Untuk
pengelolaan nilai di Unijoyo menggunakan sistem
komputeri-sasi.
|
Pengelolaan
nilai di Unijoyo menggunakan sistem
komputeri-sasi.
|
Dalam
penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
|
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif.
|
6. Predikat
pada kalimat efektif tidak didahului kata yang.
TIDAK
GRAMATIKAL
|
GRAMATIKAL
|
Pengembangan sistem pembinaan
kemahasiswaan yang perlu
ditingkatkan.
|
Pengembangan sistem pembinaan
kemahasiswaan perlu ditingkatkan.
|
Keberadaan BEM di masing-masing
fakultas yang mendorong aktivitas
mahasiswa.
|
Keberadaan BEM di masing-masing fakultas
mendorong aktivitas mahasiswa.
|
7. Kalimat
efektif tidak menggunakan kata penghubung yang bertentangan dalam satu kalimat.
TIDAK
GRAMATIKAL
|
GRAMATIKAL
|
Meskipun
penelitian ini telah dilakukan sesuai dengan
rancangan, tetapi hasil-hasil yang
diperoleh belum memuaskan.
|
Meskipun
penelitian ini telah dilakukan sesuai dengan
rancangan, hasil-hasil yang diperoleh belum memuaskan.
|
8. Kalimat
efektif dibentuk dari urutan/rangkaian kata yang tepat.
TIDAK GRAMATIKAL
|
GRAMATIKAL
|
Kekalahan dalam persidangan itu mereka segera akan laporkan pada
kliennya.
|
Kekalahan dalam persidangan itu akan segera mereka laporkan pada
kliennya.
|
Jangan bertindak emosional, saya ingin
jelaskan permasalahan yang sebenarnya.
|
Jangan bertindak emosional, ingin saya jelaskan permasalahan yang
sebenarnya.
|
b. Ketepatan Pilihan Kata
(Diksi)
Pilihan kata atau diksi
memegang peranan penting di dalam komunikasi baik tulis maupun lisan. Diksi
yang tepat dapat memperjelas makna suatu kalimat. Keraf (1981:21-23)
mengungkapkan pilihan kata sangat ditentukan oleh faktor makna dan konteks
peemakaiannya. Konteks yang berbeda akan menentukan diksi yang berbeda pula.
Bahkan bentuk kata yang sama dapat mempunyai makna yang lain karena situasi
pemakaian yang berbeda-beda.3
Contoh gambaran yang
jelas terhadap ketepatan pilihan kata.
DIKSI KURANG TEPAT
|
DIKSI TEPAT
|
Dalam hal ini dapat dibilang bahwa bahasa Indonesia belum
menjadi
|
Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia belum menjadi
|
1.
Idul
fitri ialah hari besar umat islam
2.
Idul
fitri ialah hari agung umat islam
|
Idul fitri
ialah hari raya umat islam
|
1.
Jaksa
raya Bagir Manan menolak panggilan
BPK.
2.
Jaksa
raya Bagir Manan menolak panggilan
BPK.
|
Jaksa Agung Bagir Manan menolak panggilan
BPK.
|
Saya suka melihat pertunjukan wayang kulit.
|
Saya suka menonton pertunjukan wayang kulit.
|
c.
Ketegasan
Ketegasan
kalimat adalah suatu perlakuan atau pemberian penekanan pada ide pokok kalimat.
Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberikan
penekanan atau ketegasan pada penonjolan tersebut. Ada berbagai cara untuk
membentuk penekanan dalam kalimat. Berbagai cara tersebut diuraikan sebagai
berikut.
1.
Meletakkan kata yang
ditonjolkan untuk mengawali kalimat.
TIDAK
TEGAS
|
TEGAS
|
Harapan
rektor ialah
mahasiswa dapat belajar dengan baik dan meraih prestasi yang maksimal.
|
Rektor mengharapkan agar mahasiswa
dapat belajar dengan baik dan meraih prestasi yang maksimal
|
2. Membuat urutan yang logis
TIDAK
TEGAS
|
TEGAS
|
Bukan seribu, sejuta, atau seratus,
tetapi sudah berjuta-juta uangnya disalurkan dalam pembangunan masjid di
kampungnya.
|
Bukan seratus , seribu, atau
sejuta, , tetapi sudah berjuta-juta uangnya disalurkan dalam pembangunan
masjid di kampungnya.
|
3. Melakukan pertentangan terhadap ide yang
ditonjolkan.
TIDAK
TEGAS
|
TEGAS
|
Anak itu tidak malas, rajin bekerja.
|
Anak itu tidak malas, tetapi rajin bekerja.
|
4. Menggunakan partikel penekanan.
TIDAK
TEGAS
|
TEGAS
|
Saudara
yang bertanggung
jawab terhadap ketidakstabilan kehidupan di kampus ini.
|
Saudaralah yang
bertanggung jawab terhadap ketidakstabilan kehidupan di kampus ini.
|
d. Kehematan
Kalimat
yang hemat adalah kalimat yang tidak mengandung unsue mubazir dalam penggunaan
kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak
berarti menghilangkan seluruh bagian kalimat yang dapat memperjelas kalimat.
Akan tetapi, kehematan mempunyai arti penghematan terhadap kata, frasa, atau
bagian lain yang tidak diperlukan dan tidak menyalahi kaidah tata bahasa
Indonesia. Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dengan kehematan dalam
kalimat efektif, sebagaimana dijelaskan berikut ini.
1.
Kalimat
efektif tidak menggunakan dua kata atau lebih yang bermakna sama (sinonim) atau
kata yang mubazir dalam satu kalimat.
MUBAZIR
|
HEMAT
|
Korupsi ialah merupakan kejahatan yang menyengsarakan rakyat.
|
Korupsi merupakan kejahatan yang menyengsarakan rakyat.
|
Penelitian ini membicarakan tentang pengaruh masyarakat yang
mengerti hukum dan buta hukum.
|
Penelitian ini membicarakan pengaruh
masyarakat yang mengerti hukum dan buta hukum.
|
2.
Kalimat
efektif tidak menggunakan pengulangan subyek.
MUBAZIR
|
HEMAT
|
Semua
mahasiswa serentak
berdiri setelah mereka mengetahui
rektor datang.
|
Semua
mahasiswa serentak
berdiri setelah mengetahui rektor datang.
|
3.
Kalimat
efektif tidak menggunakan hipernim dari kata yang berhiponim.
MUBAZIR
|
HEMAT
|
Jaket alamamater mahasiswa Unijoyo berwarna biru.
|
Jaket alamamater mahasiswa Unijoyo
biru.
|
Para pimpinan itu gemar menghisap rokok cerutu.
|
Para pimpinan itu gemar menghisap cerutu.
|
4.
Kalimat
efektif tidak menggunakan kata bantu yang tidak perlu.
MUBAZIR
|
HEMAT
|
Kesemuanya ini disebabkan kenyatan bahwa pembaca surat kabar rata-rata
pembaca kilat.
|
Kesemuanya ini disebabkan kenyatan
pembaca surat kabar rata-rata pembaca kilat.
|
Presiden mengatkan bahwa kerjasama ASEAN perlu
ditingkatkan.
|
Presiden mengatkan kerjasama ASEAN
perlu ditingkatkan.
|
e. Kerancuan
dalam Bahasa Indonesia
Kerancuan
adalah gejala bahasa yang terjadi akibat masuknya unsur bahasa tertentu (bahasa
Indonesia). Dalam bahasa Indonesia, hal itu diistilahkan kontaminasi. Rancu
ialah kacau. Kerancuan bahasa ialah kekacauan dalam bahasa. Kerancuan dapat
terjadi dalam susunan/ penggabungan atau pun pembentukan kata, frasa, dan
kalimat.
1.
Kerancuan
Kata
Kerancuan
pada tingkat kata dapat terjadi karena penggabungan dua kata yang berbeda
dilakukan secara tepat untuk membentuk kata baru.
Contoh:
a.
Sudah
berulangkali ia dinasehati
keluarganya.
Kalimat
diatas merupakan kalimat tidak tepat, seharusnya tidak perlu menggunakan
penggabungan dua kata, cukup dengan mengulang kata-kata tersebut, yaitu:
berulang-ulang atau berkali-kali. Perbaikan kalimat sebagai berikut.
-
Sudah
berulang-ulang ia dinasehati keluarganya.
-
Sudah
berkal-kali ia dinasehati
keluarganya.
b.
Ia
seringkali tidak mengerjakan tugas
kuliah.
Seringkali merupakan kontaminasi dari ‘sering’ dan ‘banyak
sekali’ atau ‘berkali-kali’. Jika ditulis seringkali
berarti maknanya ‘banyak berkali-kali. Perbaikan kalimat sebagai berikut.
-
Ia
sering tidak mengerjakan tugas kuliah.
2.
Kerancuan
Frasa
Kerancuan
ini terdapat dua frasa yang berbeda digabungkan dalam bentuk frasa yang baru.
Penggunaan frasa yang salah dan seriing digunakan dapat dilihat pada contoh
berikut.
a.
Pengendara
belok kiri boleh langsung.
Frasa
‘Belok kiri boleh langsung’ merupakan bentuk rancu penggabungan beberapa frasa,
yaitu: belok kiri dan boleh langsung. Apabila yang dimaksudkan ialah pengendara
boleh langsung belok ke kiri, penulisan yang tepat sebagai berikut.
-
Pengendara
boleh langsung belok kiri
b.
Jangan
boleh ia pergi dari sini.
Frasa
tersebut merupakan bentuk rancu dari ‘jangan biarkan’ dan ‘tidak boleh’. Dengan
demikian kalimat yang tepat sebagai berikut.
-
Jangan biarkan ia pergi dari sini.
-
Tidak boleh ia pergi dari sini.
3.
Kerancuan
Kalimat
Kerancuan
kalimat ialah kalimat dengan susunan yang kacau. Akan tetapi, susunan kata atau
frasa dalam kalimat tersebut dianggap sebagai sesuatu yang khas sehingga tidak
dianggap salah. Pada umumnya kalimat yang rancu terdiri atas dua bagian
yang tidak sesuai. Hal itu dapat dilihat
pada contoh-contoh berikut.
1.
Para
mahasiswa telah menyelesaikan tugas kemudian diserahkan kepada dosen.
Kalimat
diatas rancu karena menggabungkan dua kalimat yang konsepnya berbeda, yaitu
kalimat aktif dan kalimat pasif. Penulisan yang tepat sebagai berikut.
-
Para
mahasiswa menyelesaikan tugas. Tugasnya diserahkan kepada dosen.
-
Para
mahasiswa menyelesaikan tugas, kemudian menyerahkannya kepada dosen.
f. Ketaksaan
Ketaksaan
atau ambivalen ialah persaan tidak sadar yang saling bertentangan terhadap
situasi yang sama. Ambivalen dapat juga diartikan sebagai kebingungan, keadaan,
sikap, atau perasaan yang bertentangan dengan seseorang pada waktu yang sama.
Dalam
kajian ini, yang dimaksud ambivalen ialah ketaksaan atau kemungkinan makna
ganda pada kata atau rangkaian kat, baik yang berupa frasa, klausa, dan
kalimat.
1.
Yang
termasuk kata tingkat kata ialah semua kata yang tergolong polisemi, yaitu satu
kata yang memiliki beberapa makna (pengertian). Contoh:
a.
Kandungan
|
:
|
Unsur,
organ tubuh wanita.
|
b.
Kepala
|
:
|
Pimpinan,
anggota tubuh.
|
c.
Kaki
|
:
|
Bagin
akhir/bawah, anggota tubuh.
|
d.
Ramah
tamah
|
:
|
Sifat,
acara makan-makan.
|
e.
Canggih
|
:
|
Rumit,
banyak unsur, modern, utama, lain dari yang lain.
|
2.
Yang
termasuk kata tingkat frasa ialah gabungan kata yang tidak predikatif yang
memiliki makna lebih dari satu. Contoh:
a.
Bebas
parkir
|
:
|
Parkir
gratis, tidak boleh parkir.
|
b.
Hapus
papan tulis
|
:
|
Meniadakan
papan tulis, menghapus tulisan.
|
3.
Yang
termasuk kata tingkat klausa ialah gabungan kata yang memenuhi unsur sebagai
bagian kalimat yang berstruktur gramatikal subjek dan predikat, tetapi memiliki
makna lebih dari satu. Padahal satu klausa hanya memiliki satu makna. Contoh:
Terima kasih untuk
tidak merokok
|
||
Seharusnya
|
:
|
-
Terima
kasih karena Anda tidak merokok, atau
-
terima
kasih untuk yang tidak merokok
|
4.
Ketaksaan
dalam kalimat juga sering terjadi, yaitu ketaksaan yang disebabkan kalimat yang
disusun memiliki makna ganda atau membingungkan. Contoh:
HARAP TURUN BANYAK ANAK
KECIL
|
||
Seharusnya
|
:
|
-
Pengendara
diharap turun karena banyak anak kecil.
|
HARAP
PELAN-PELAN BANYAK ANAK KECIL
|
||
Seharusnya
|
:
|
-
Berkendaraanlah
dengan pelan-pelan karena banyak anak kecil.
|
Contoh
lain penggunaan klimat yang bermakna ganda.
Kucing itu makan
tikus mati.
|
||
makna
|
:
|
1.
Kucing
itu makan tikus yang sudah mati. (tikus mati)
2.
Kucing
itu mati karena makan tikus. (kucing mati)
|
Anak perwira
tinggi yang rendah hati.
|
||
makna
|
:
|
1.
Perwira
tinggi yang rendah hati mempunyai anak. (perwira tinggi rendah hati)
2.
Perwira
tinggi itu mempunyai anak yang rendah hati. (anak rendah hati)
|
BAB III
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Mereka
yang terlibat dalam jaringan komunikasi masyarakat memerlukan
persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan itu antara lain: ia harus
menguasai sejumlah kosa kata yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu
pula menggerakkan kekeyaannya itu menjadi jaringan-jaringan kalimat yang jelas
dan efektif, sesuia dengan kaidah sintaksis yang berlaku, untuk menyampaikan
rangkaian pikiran dan perasaannya, untuk menyampaikan rangkaian pikiran dan
perasaannya kepada orang lain.
Kalimat
efektif memiliki ciri-ciri yang khas dalam khasanah bahasa Indonesia. Adapun ciri-ciri
tersebut meliputi: a) kesepadanan struktur gramatikal, b) ketepatan pilihan
kata, c) ketegasan, d) kehematan, e) kecermatan, f) keserasian (kepaduan), dan
g) kelogisan (masuk akal).
b.
Saran
Dengan
disusunnya makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan kalimat efektif
dalam kehidupan sehari-hari. Baik pemakaian pilihan kata yang baik dan tepat
maupun penggunaan kalimat yang sesuai situasi dalam penyampaiannya.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar